Sunday, September 26, 2021
Depan > Kemasyarakatan > Physical Distancing, Tata Lapak Pedagang Pelataran Pasar Semampir Secara Zigzag

Physical Distancing, Tata Lapak Pedagang Pelataran Pasar Semampir Secara Zigzag

Reporter : Hendra Trisianto
KRAKSAAN – Menyusuli himbauan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19) dengan penggunaan masker dan gerakan cuci tangan menggunakan sabun kepada para pedagang pasar, kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo mulai memberlakukan pembatasan fisik atau physical distancing.

Pembatasan dengan menata lapak secara zigzag paralel menggunakan batas garis putih berjarak dua meter antar pedagang dan pembeli itu, mulai diuji coba penerapannya kepada pedagang lapak yang beroperasi di sepanjang pelataran Pasar Semampir Kecamatan Kraksaan mulai Rabu (28/4/2020) dini hari.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi mengemukakan selain pembatasan fisik antar pedagang, pihaknya bersama Dinas Perhubungan juga telah melakukan penutupan arus lalu lintas di depan Pasar Semampir tersebut.

Hal ini kata Dwijoko agar dapat melokalisir sekaligus mengakomodir ratusan pelapak yang juga banyak memanfaatkan bahu jalan sebagai tempat berjualan. Hal ini dikarenakan halaman Pasar Semampir tidak mencukupi untuk menampung seluruh pedagang lapak yang beroperasi mulai dini hari sampai pagi itu.

“Untuk mengantisipasi kerumunan, kendaraan pengunjung/pembeli hanya boleh sampai pada batas pintu barat dan timur selanjutnya mereka harus jalan kaki menuju para pelapak. Agar optimal kami akan terus mengawasi pelaksanaanya dengan melibatkan sahabat-sahabat Banser,” jelasnya.

Lebih lanjut mantan Kasatpol PP Kabupaten Probolinggo ini menerangkan jika penerapan pembatasan fisik antar pedagang di Pasar Semampir bisa terlaksana dengan baik, maka kebijakan tersebut nantinya juga akan diberlakukan di seluruh pasar tradisional yang tersebar di 24 Kecamatan.

“Para pedagang cukup kooperatif dan mendukung salah satu ikhtiar pencegahan penyebaran COVID-19 ini. Mudah-mudahan kebijakan ini efektif untuk mengurai kerumunan dan segera bisa diaplikasikan untuk pedagang pelataran pada pasar-pasar tradisional lainnya yang selama ini memang hanya diberlakukan pembatasan jam operasionalnya saja,” ucapnya.

Sementara salah seorang pedagang pelataran Pasar Semampir asal Desa Asembagus, Rahayu (50) mengaku tidak keberatan dengan adanya pembatasan fisik bagi dirinya saat berjualan. Hanya saja dirinya harus lebih cermat menata wadah-wadah ikan segar dagangannya agar tidak terlalu makan tempat.

“Kami mendukung peraturan ini apalagi ini kan juga untuk keamanan dan kenyamanan bersama. Meskipun kondisi pasar tidak seramai biasanya, yang penting kami masih bisa tetap berjualan seperti biasanya untuk menyambung hidup,” tandasnya. (dra)