Beranda > Pemerintahan > Tingkatkan Luas Areal Tanam Tebu di Kabupaten Probolinggo

Tingkatkan Luas Areal Tanam Tebu di Kabupaten Probolinggo

Reporter : Mujiono
DRINGU – Dari tahun ke tahun luas areal tanam tebu semakin menurun. Untuk mengatasi permasalahan tersebut digelar rapat koordinasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan dan pelaku industri gula di Kabupaten Probolinggo. Rapat Koordinasi (Rakor) yang dilaksanakan di pringgitan Rumah Jabatan Bupati Probolinggo, Rabu (9/5/2018) itu dipimpin langsung oleh Penjabat (Pj) Bupati Probolinggo R. Tjahjo Widodo, SH, M.Hum.

Rakor ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD Wahid Nurahman, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ahmad Hasyim Ashari serta Kepala Dinas Kominfo Statistik dan Persandian Tutug Edi Utomo.

Hadir pula General Manager (GM) PG Wonolangan, GM PG Gending, GM PG Pajarakan, Administratur Perhutani, Ketua APTR PG Wonolangan, Ketua APTR PG Gending serta Ketua APTR PG Pajarakan, Ketua APTR PG Wonolangan, Ketua APTR PG Gending dan juga Ketua APTR Pajarakan. Hadir juga Perwakilan Bappeda Kabupaten, Disperindag dan Dinas Koperasi UMKM serta pengurus BPC HIPMI Kabupaten Probolinggo.
Rakor ini membahas permasalahan yang dihadapi dan upaya mengatasi demi mencapai swasembada gula.

Ada beberapa permasalahan mendasar yang dihadapi oleh para petani penggarap lahan tebu antara lain ketersediaan bibit tanaman, ketersediaan pupuk bersubsidi, kredit pertanian dan tata niaga gula. Karena kendala ini petani tebu menjadi enggan menggarap lahan pertanian tebunya dan akan beralih pada produksi pertanian non tebu.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ahmad Hasyim Ashari menyampaikan, progres pembangunan komoditas perkebunan tahun 2013 memiliki luas areal 3.662,37 hektar dengan produksi tebu 17.085,76 ton dan produktifitas 4,67 Ton/Ha. Tahun 2014 luas areal perkebunan 3.071,58 hektar memproduksi tebu 14.308,88 ton dengan produktifitas 4,66 Ton/Ha dan Tahun 2015 luas areal perkebunan 2.787,62 hektar memproduksi tebu 13.532,05 ton dengan produktifitas 4,85 Ton/Ha.

Sementara tahun 2016 areal perkebunan seluas 2.787,62 hektar memproduksi tebu 13.700,00 ton dengan produktifitas 4,91 Ton/Ha dan di tahun 2017 luas areal perkebunan 2.534,50 hektar memproduksi tebu 13.800,00 ton dengan produktifitas 5,44 Ton/Ha. Penurunan luas area tebu disebabkan oleh animo masyarakat beralih pada komoditas lain.

Penurunan luas areal pertanian tebu berimbas pada penurunan produksi gula. Ditambah lagi faktor persaingan yang membuat beberapa PG melakukan merger bahkan gulung tikar. Hingga sekarang masih terdapat 3 PG yg bertahan di Kabupaten Probolinggo yaitu PG Pajarakan, PG Wonolangan dan PG Gending.

Sebagai upaya untuk mempertahankan ketiga pabrik gula tersebut Waki Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Wahid Nurahman berharap kepada Pemerintah Daerah segera melakukan pembahasan bersama mencari solusi terbaik agar tiga PG sebagai aset kebanggaan Kabupaten Probolinggo dari peninggalan era Kolonial Belanda tersebut dapat eksis di tengah persaingan dengan gula impor.

Menurut Wahid ada beberapa hal mendesak untuk segera dibahas diantaranya efisiensi dan penataan manajemen PG, bahan baku yang ketersediaannya terus menurun dan turunnya minat masyarakat untuk menanam tebu. Oleh karena itu perlu dipikirkan penambahan lahan untuk tanaman tebu. Selain itu ada kepastian Harga Eceran Tertinggi (HET) gula dari pemerintah sehingga harga tidak dipermainkan oleh pedagang besar yg ujung-ujungnya merugikan para petani tebu.

“Dalam pembahasan bersama tentang pabrik gula tersebut semua pihak yang berkaitan dengan tata niaga gula hrs diundang,” ujar Wahid.

General Manager (GM) PG Wonolangan Heru Wibowo menyampaikan, harapan ke depan yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi gula adalah meningkatkan kinerja produksi PG agar tidak berhenti produksi gulanya. Untuk memenuhi kebutuhan tebu PG Wonolangan terbanyak dari Lumajang.

Suply tebu yang dibutuhkan oleh PG Wonolangan sendiri mencapai 3 juta kwintal, diantaranya 1 juta kwintal berasal dari Kabupaten Probolinggo dan 2 juta kwintal dari Lumajang. Wilayah Kabupaten probolinggo yang memiliki 3 PG minimal membutuhkan 7,5 hingga 10 juta kwintal. Sehingga program perluasan dan pengembang lahan areal pertanian tebu sangat dibutuhkan guna menunjang kualitas hasil produksi PG di Kabupaten Probolinggo.

Pj. Bupati Probolinggo R. Tjahjo Widodo mengajak semua pihak yang berkepentingan untuk mewujudkan pabrik gula yang bangkit, kuat dan terus berproduksi. Dorongan semangat itu akan meningkatkan semangat kerja karyawan PG, petani sejahtera dan koperasi lebih maju.

Pj. Bupati R. Tjahjo Widodo menambahkan, Pemkab Probolinggo terus berupaya mendukung pemanfatan areal lahan tanam tebu agar lebih berkembang. Langkah yang harus dilaksanakan segera adalah menggelar workshop yang juga melibatkan akademisi perguruan tinggi.Tingkatkan Luas Areal Tanam Tebu di Kabupaten Probolinggo.

Dari tahun ke tahun luas areal tanam tebu semakin menurun. Untuk mengatasi permasalahan tersebut digelar rapat koordinasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan dan pelaku industri gula di Kabupaten Probolinggo. Rapat Koordinasi (Rakor) yang dilaksanakan di pringgitan Rumah Jabatan Bupati Probolinggo, Rabu (9/5/2018) itu dipimpin langsung oleh Penjabat (Pj) Bupati Probolinggo R. Tjahjo Widodo, SH, M.Hum.

Rakor ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD Wahid Nurahman, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ahmad Hasyim Ashari serta Kepala Dinas Kominfo Statistik dan Persandian Tutug Edi Utomo.

Hadir pula General Manager (GM) PG Wonolangan, GM PG Gending, GM PG Pajarakan, Administratur Perhutani, Ketua APTR PG Wonolangan, Ketua APTR PG Gending serta Ketua APTR PG Pajarakan, Ketua APTR PG Wonolangan, Ketua APTR PG Gending dan juga Ketua APTR Pajarakan. Hadir juga Perwakilan Bappeda Kabupaten, Disperindag dan Dinas Koperasi UMKM serta pengurus BPC HIPMI Kabupaten Probolinggo.
Rakor ini membahas permasalahan yang dihadapi dan upaya mengatasi demi mencapai swasembada gula.

Ada beberapa permasalahan mendasar yang dihadapi oleh para petani penggarap lahan tebu antara lain ketersediaan bibit tanaman, ketersediaan pupuk bersubsidi, kredit pertanian dan tata niaga gula. Karena kendala ini petani tebu menjadi enggan menggarap lahan pertanian tebunya dan akan beralih pada produksi pertanian non tebu.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ahmad Hasyim Ashari menyampaikan, progres pembangunan komoditas perkebunan tahun 2013 memiliki luas areal 3.662,37 hektar dengan produksi tebu 17.085,76 ton dan produktifitas 4,67 Ton/Ha. Tahun 2014 luas areal perkebunan 3.071,58 hektar memproduksi tebu 14.308,88 ton dengan produktifitas 4,66 Ton/Ha dan Tahun 2015 luas areal perkebunan 2.787,62 hektar memproduksi tebu 13.532,05 ton dengan produktifitas 4,85 Ton/Ha.

Sementara tahun 2016 areal perkebunan seluas 2.787,62 hektar memproduksi tebu 13.700,00 ton dengan produktifitas 4,91 Ton/Ha dan di tahun 2017 luas areal perkebunan 2.534,50 hektar memproduksi tebu 13.800,00 ton dengan produktifitas 5,44 Ton/Ha. Penurunan luas area tebu disebabkan oleh animo masyarakat beralih pada komoditas lain.

Penurunan luas areal pertanian tebu berimbas pada penurunan produksi gula. Ditambah lagi faktor persaingan yang membuat beberapa PG melakukan merger bahkan gulung tikar. Hingga sekarang masih terdapat 3 PG yg bertahan di Kabupaten Probolinggo yaitu PG Pajarakan, PG Wonolangan dan PG Gending.

Sebagai upaya untuk mempertahankan ketiga pabrik gula tersebut Waki Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Wahid Nurahman berharap kepada Pemerintah Daerah segera melakukan pembahasan bersama mencari solusi terbaik agar tiga PG sebagai aset kebanggaan Kabupaten Probolinggo dari peninggalan era Kolonial Belanda tersebut dapat eksis di tengah persaingan dengan gula impor.

Menurut Wahid ada beberapa hal mendesak untuk segera dibahas diantaranya efisiensi dan penataan manajemen PG, bahan baku yang ketersediaannya terus menurun dan turunnya minat masyarakat untuk menanam tebu. Oleh karena itu perlu dipikirkan penambahan lahan untuk tanaman tebu. Selain itu ada kepastian Harga Eceran Tertinggi (HET) gula dari pemerintah sehingga harga tidak dipermainkan oleh pedagang besar yg ujung-ujungnya merugikan para petani tebu.

“Dalam pembahasan bersama tentang pabrik gula tersebut semua pihak yang berkaitan dengan tata niaga gula hrs diundang,” ujar Wahid.

General Manager (GM) PG Wonolangan Heru Wibowo menyampaikan, harapan ke depan yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi gula adalah meningkatkan kinerja produksi PG agar tidak berhenti produksi gulanya. Untuk memenuhi kebutuhan tebu PG Wonolangan terbanyak dari Lumajang.

Suply tebu yang dibutuhkan oleh PG Wonolangan sendiri mencapai 3 juta kwintal, diantaranya 1 juta kwintal berasal dari Kabupaten Probolinggo dan 2 juta kwintal dari Lumajang. Wilayah Kabupaten probolinggo yang memiliki 3 PG minimal membutuhkan 7,5 hingga 10 juta kwintal. Sehingga program perluasan dan pengembang lahan areal pertanian tebu sangat dibutuhkan guna menunjang kualitas hasil produksi PG di Kabupaten Probolinggo.

Pj. Bupati Probolinggo R. Tjahjo Widodo mengajak semua pihak yang berkepentingan untuk mewujudkan pabrik gula yang bangkit, kuat dan terus berproduksi. Dorongan semangat itu akan meningkatkan semangat kerja karyawan PG, petani sejahtera dan koperasi lebih maju.

Pj. Bupati R. Tjahjo Widodo menambahkan, Pemkab Probolinggo terus berupaya mendukung pemanfatan areal lahan tanam tebu agar lebih berkembang. Langkah yang harus dilaksanakan segera adalah menggelar workshop yang juga melibatkan akademisi perguruan tinggi.Tingkatkan Luas Areal Tanam Tebu di Kabupaten Probolinggo.

Dari tahun ke tahun luas areal tanam tebu semakin menurun. Untuk mengatasi permasalahan tersebut digelar rapat koordinasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan dan pelaku industri gula di Kabupaten Probolinggo. Rapat Koordinasi (Rakor) yang dilaksanakan di pringgitan Rumah Jabatan Bupati Probolinggo, Rabu (9/5/2018) itu dipimpin langsung oleh Penjabat (Pj) Bupati Probolinggo R. Tjahjo Widodo, SH, M.Hum.

Rakor ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD Wahid Nurahman, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ahmad Hasyim Ashari serta Kepala Dinas Kominfo Statistik dan Persandian Tutug Edi Utomo.

Hadir pula General Manager (GM) PG Wonolangan, GM PG Gending, GM PG Pajarakan, Administratur Perhutani, Ketua APTR PG Wonolangan, Ketua APTR PG Gending serta Ketua APTR PG Pajarakan, Ketua APTR PG Wonolangan, Ketua APTR PG Gending dan juga Ketua APTR Pajarakan. Hadir juga Perwakilan Bappeda Kabupaten, Disperindag dan Dinas Koperasi UMKM serta pengurus BPC HIPMI Kabupaten Probolinggo.
Rakor ini membahas permasalahan yang dihadapi dan upaya mengatasi demi mencapai swasembada gula.

Ada beberapa permasalahan mendasar yang dihadapi oleh para petani penggarap lahan tebu antara lain ketersediaan bibit tanaman, ketersediaan pupuk bersubsidi, kredit pertanian dan tata niaga gula. Karena kendala ini petani tebu menjadi enggan menggarap lahan pertanian tebunya dan akan beralih pada produksi pertanian non tebu.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ahmad Hasyim Ashari menyampaikan, progres pembangunan komoditas perkebunan tahun 2013 memiliki luas areal 3.662,37 hektar dengan produksi tebu 17.085,76 ton dan produktifitas 4,67 Ton/Ha. Tahun 2014 luas areal perkebunan 3.071,58 hektar memproduksi tebu 14.308,88 ton dengan produktifitas 4,66 Ton/Ha dan Tahun 2015 luas areal perkebunan 2.787,62 hektar memproduksi tebu 13.532,05 ton dengan produktifitas 4,85 Ton/Ha.

Sementara tahun 2016 areal perkebunan seluas 2.787,62 hektar memproduksi tebu 13.700,00 ton dengan produktifitas 4,91 Ton/Ha dan di tahun 2017 luas areal perkebunan 2.534,50 hektar memproduksi tebu 13.800,00 ton dengan produktifitas 5,44 Ton/Ha. Penurunan luas area tebu disebabkan oleh animo masyarakat beralih pada komoditas lain.

Penurunan luas areal pertanian tebu berimbas pada penurunan produksi gula. Ditambah lagi faktor persaingan yang membuat beberapa PG melakukan merger bahkan gulung tikar. Hingga sekarang masih terdapat 3 PG yg bertahan di Kabupaten Probolinggo yaitu PG Pajarakan, PG Wonolangan dan PG Gending.

Sebagai upaya untuk mempertahankan ketiga pabrik gula tersebut Waki Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Wahid Nurahman berharap kepada Pemerintah Daerah segera melakukan pembahasan bersama mencari solusi terbaik agar tiga PG sebagai aset kebanggaan Kabupaten Probolinggo dari peninggalan era Kolonial Belanda tersebut dapat eksis di tengah persaingan dengan gula impor.

Menurut Wahid ada beberapa hal mendesak untuk segera dibahas diantaranya efisiensi dan penataan manajemen PG, bahan baku yang ketersediaannya terus menurun dan turunnya minat masyarakat untuk menanam tebu. Oleh karena itu perlu dipikirkan penambahan lahan untuk tanaman tebu. Selain itu ada kepastian Harga Eceran Tertinggi (HET) gula dari pemerintah sehingga harga tidak dipermainkan oleh pedagang besar yg ujung-ujungnya merugikan para petani tebu.

“Dalam pembahasan bersama tentang pabrik gula tersebut semua pihak yang berkaitan dengan tata niaga gula hrs diundang,” ujar Wahid.

General Manager (GM) PG Wonolangan Heru Wibowo menyampaikan, harapan ke depan yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi gula adalah meningkatkan kinerja produksi PG agar tidak berhenti produksi gulanya. Untuk memenuhi kebutuhan tebu PG Wonolangan terbanyak dari Lumajang.

Suply tebu yang dibutuhkan oleh PG Wonolangan sendiri mencapai 3 juta kwintal, diantaranya 1 juta kwintal berasal dari Kabupaten Probolinggo dan 2 juta kwintal dari Lumajang. Wilayah Kabupaten probolinggo yang memiliki 3 PG minimal membutuhkan 7,5 hingga 10 juta kwintal. Sehingga program perluasan dan pengembang lahan areal pertanian tebu sangat dibutuhkan guna menunjang kualitas hasil produksi PG di Kabupaten Probolinggo.

Pj. Bupati Probolinggo R. Tjahjo Widodo mengajak semua pihak yang berkepentingan untuk mewujudkan pabrik gula yang bangkit, kuat dan terus berproduksi. Dorongan semangat itu akan meningkatkan semangat kerja karyawan PG, petani sejahtera dan koperasi lebih maju.

Pj. Bupati R. Tjahjo Widodo menambahkan, Pemkab Probolinggo terus berupaya mendukung pemanfatan areal lahan tanam tebu agar lebih berkembang. Langkah yang harus dilaksanakan segera adalah menggelar workshop yang juga melibatkan akademisi perguruan tinggi.(yon)