Minggu, Juni 24, 2018
Beranda > Kesehatan > Penguatan Kapasitas Layanan Inisiasi ARV dan PDP

Penguatan Kapasitas Layanan Inisiasi ARV dan PDP

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Rabu (30/5/2018) menggelar validasi dan penguatan kapasitas layanan inisiasi ARV dan PDP. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular langsung dengan sasaran menurunnya penyakit menular langsung (HIV).

Kegiatan ini diikuti oleh para petugas TB, petugas HIV dan RR inisiasi ARV dari 5 puskesmas inisiasi ARV dan 2 RS (Rumah Sakit) PDP Kabupaten Probolinggo. Meliputi, RSUD Waluyo Jati, RSUD Tongas, Puskesmas Kraksaan, Puskesmas Paiton, Puskesmas Condong, Puskesmas Leces dan Puskesmas Lumbang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Liliek Ekowati mengungkapkan HIV dan AIDS merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Probolinggo yang memerlukan penanganan secara komprehensif.

“Sejak ditemukan pada tahun 2000, kasus HIV/AIDS di Kabupaten Probolinggo terus bertambah, bahkan sampai Maret 2018 telah tercatat 1.643 penderita. Dimana, 527 orang diantaranya dilaporkan sudah meninggal. Hal ini menuntut perhatian semua pihak dalam memberikan layanan HIV/AIDS,” ungkapnya.

Menurut Liliek, tahun 2017 didapatkan data dari 8.174 orang yang di tes HIV, 259 orang dinyatakan positif mengidap HIV. “Dan hanya 190 pasien atau 73% yang masuk perawatan PDP sedangkan yang menerima ART hanya 116 pasien atau 61%, jelasnya.

Sementara Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Veronica mengatakan roadmap Kemenkes (Kementerian Kesehatan) terkait pengendalian HIV telah dicanangkan mulai 2012 dengan penerapan LKB dan SUFA sampai tahun 2017.

“Kemudian mulai tahun 2018 diterapkan Fast Tract (Jalur Cepat) TOP 90-90-90 yaitu 90% ODHA mengetahui status HIVnya, 90% ODHA yang tahu status mendapat ARV dan 90% ODHA on ART mengalami supresi viral load (VL),” katanya.

Menurut Dewi, hingga tahun 2027 target 90/90/90 akan tercapai sampai tahun 2030 Indonesia akan getting to zero yaitu zero new HIV infection, zero AIDS related dead dan zero discrimination.

“Saat ini Kabupaten Probolinggo termasuk salah satu kabupaten di Jawa Timur yang ditarget dengan skenario fast tract karena Kabupaten Probolinggo masuk klasifikasi Comprehensif (C3) dengan skenario intervensi paket medium ditambah antara lain tes HIV di seluruh puskesmas dan RSUD, pengobatan HIV (PDP) di seluruh puskesmas dan RSUD yang dikembangkan secara bertahap, tes Viral Load dan EID untuk bayi yang lahir dari ibu HIV, klinik berbasis komunitas serta tim mentor HIV dan IMS tingkat kabupaten,” terangnya.

Dewi menerangkan perkembangan pengobatan ARV sampai saat ini telah masuk pada tahapan semua pasien HIV yang ditemukan melalui tes HIV harus dilakukan treat all atau semua harus diobati tanpa syarat apapun.

“Sebelumnya pengobatan ARV masih selektif pada pasien dengan syarat CD4 kurang dari 360 untuk pasien yang berasal dari non populasi kunci (PS, LSL, Waria, Pelanggan Seks, IMS) dan populasi khusus (Bumil, TB, pasien hepatitis, serodiscordant dan epidemi yg meluas),” tegasnya.

Lebih lanjut Dewi menambahkan layanan ARV di Kabupaten Probolinggo mulai akhir tahun 2017 telah berkembang menjadi 2 RSUD yang menjadi layanan ARV (PDP) dan 5 puskesmas yang menjadi layanan ARV(puskesmas inisiasi ARV). Yakni. RSUD Waluyo Jati, RSUD Tongas, Puskesmas Kraksaan, Puskesmas Paiton, Puskesmas Condong, Puskesmas Leces dan Puskesmas Lumbang.

“Permasalahan sampai saat ini 7 layanan ARV yang sudah di setup, masih perlu mendapatkan penguatan baik SDM (Sumber Daya Manusia), sarana, prasarana, proses pencatatan dan pelaporannya,” pungkasnya. (wan)