Rabu, Desember 12, 2018
Beranda > Kesehatan > Pemkab Gelar Rakor Evaluasi Pencapaian Program Kecacingan

Pemkab Gelar Rakor Evaluasi Pencapaian Program Kecacingan

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menggelar rapat koordinasi (rakor) evaluasi pencapaian program kecacingan lintas sektor dan lintas program di ruang pertemuan Jabung 2 Kantor Bupati Probolinggo, Selasa (27/11/2018).

Kegiatan ini diikuti 40 orang terdiri dari perwakilan Polres Probolinggo, Kodim 0820 Probolinggo, Dinas Pendidikan, Pokja IV PKK Kabupaten Probolinggo, Kemenag, Fatayat NU, Muslimat NU serta Kepala Puskesmas se-Kabupaten Probolinggo. Materi yang dibahas meliputi kebijakan program filaria dan kecacingan, analisa situasi dan evaluasi POPM kecacingan di Kabupaten Probolinggo tahun 2018.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Probolinggo dr Dewi Veronica mengatakan secara umum kegiatan ini bertujuan meningkatkan cakupan program pengendalian kecacingan sampai 75% pada anak usia pra sekolah dan usia sekolah (1-12 tahun) di semua daerah endemis sehingga menurunkan angka kecacingan dan tidak menjadi masalah kesehatan di masyarakat terutama di Kabupaten Probolinggo.

“Kegiatan ini bisa dijadikan sarana sosialisasi evaluasi pencapaian program kecacingan tahun 2018, koordinasi pemberian obat cacing pada tahun berikutnya serta meningkatkan kemitraan dalam pengendalian kecacingan di masyarakat dengan pemangku kebijakan, lintas sektor dan organisasi masyarakat,” katanya.

Sementara Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr Shodiq Tjahjono mengungkapkan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) di Kabupaten Probolinggo telah dimulai pada tahun 2015 dan akan dilaksanakan selama 5 tahun sampai saat ini memasuki tahun ke 4 (empat).

“Berdasarkan data capaian tahun 2017 di kabupaten/kota sudah memenuhi standart Nasional (> 75% sasaran) yaitu sebesar 98%. Tetapi kegiatan ini perlu terus berkelanjutan untuk mempertahankan kualitas dan capaian program sampai 5 tahun,” ujarnya.

Shodiq menerangkan pada tahun 2018 pelaksanaan kegiatan POPM kecacingan terintegrasi dengan program gizi karena Kabupaten Probolinggo termasuk 11 kab/kota dengan wilayah stunting. Sehingga pelaksanaan POPM kecacingan dilakukan dua kali dalam setahun (bulan April dan Oktober).

“Dari 2 kali POPM tersebut didapatkan data, untuk bulan April jumlah sasaran sebanyak 206.076 orang dan diberi obat sebanyak 204.709 dengan prosentase 99%. Sementara untuk bulan Oktober jumlah sasaran sebanyak 206.943 orang dan diberi obat sebanyak 192.649 orang dengan prosentase 93,1%. Terdiri dari posyandu, PAUD/TK, SD/MI, sasaran usia 12-23 tahun, sasaran usia 2-6 tahun dan sasaran usia 7-12 tahun,” terangnya.

Sedangkan Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo Achmad Arif mengatakan kecacingan mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, karena menghambat penyerapan makanan sehingga mengakibatkan pertumbuhan terganggu (stunting). Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronik dan 37% anak balita di Indonesia menderita stunting. Dimana 30% nya disebabkan karena kecacingan. Kabupaten Probolinggo ada 10 desa stunting dan prevalensi stunting sebesar 14,06%.

“Kecacingan dapat menyebabkan anemia, tubuh lemah sehingga konsentrasi belajar berkurang dan mengakibatkan prestasi belajar menurun. Kecacingan juga menimbulkan kerugian zat gizi karena menyebabkan kehilangan karbohidrat, protein serta kehilangan darah sehingga menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja serta menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terserang penyakit. Tetapi kecacingan dapat dicegah diantaranya dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta minum obat cacing. Manfaat minum obat cacing (Albendazole) tidak hanya membunuh cacing dewasa, tetapi juga menghancurkan telur dan larva cacing sehingga menurunkan prevalensi kecacingan dan mencegah dampak kecacingan (gizi buruk, anemia dan stunting),” katanya.

Menurut Arif, kegiatan Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) kecacingan di Kabupaten Probolinggo telah dimulai tahun 2015 dan akan dilaksanakan selama 5 tahun. Sampai tahun ini memasuki tahun ke-4. Berdasarkan data capaian pengendalian program kecacingan tahun 2017 di Kabupaten Probolinggo sudah memenuhi standart nasional (>75% dari sasaran SD/MI dan pra sekolah) yaitu sebesar 98% tetapi kegiatan ini perlu terus berkelanjutan untuk mempertahankan kualitas dan capaian program sampai 5 tahun. Kegiatan POPM kecacingan ini dilakukan di posyandu, PAUD dan sekolah (SD/MI).

“Pada tahun 2018 pelaksanaan kegiatan pemberian obat cacing bagi balita dan anak sekolah di Kabupaten Probolinggo yang masuk daerah stunting telah dilaksanakan pada bulan April dan Oktober sesuai dengan perencanaan dan pemberian serentak di seluruh Indonesia. Dengan sasaran anak pra sekolah (1-6 tahun) dan anak usia sekolah (7-12 tahun),” jelasnya.

Arif menambahkan guna mengevaluasi kegiatan tahun 2018 dan mendukung pelaksanaan bulan kecacingan yang telah dilaksanakan pada bulan April dan Oktober 2018 ini maka perlu dilaksanakan kegiatan rakor evaluasi program kecacingan lintas sektor dan lintas program di Kabupaten Probolinggo.

“Sebagai upaya pengendalian penyakit kecacingan diperlukan peningkatan kemitraan dan peran serta lintas program, lintas sektor terkait dan masyarakat baik perorangan maupun organisasi sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan akibat kecacingan,” pungkasnya. (wan)