Rabu, November 21, 2018
Beranda > Kesehatan > Dinkes Gelar Workshop KTR dan Upaya Berhenti Merokok

Dinkes Gelar Workshop KTR dan Upaya Berhenti Merokok

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar workshop Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Upaya Berhenti Merokok (UBM), Selasa dan Rabu (30-31/10/2018). Kegiatan yang diikuti oleh guru dan tenaga kesehatan ini dihadiri narasumber dari Dinkes Provinsi Jawa Timur dan SMKN 1 Kraksaan.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Probolinggo Wiwik Yuliati mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pada guru dan tenaga kesehatan tentang KTR dan UBM di sekolah.

Selain itu, mengimplementasikan KTR dan UBM baik di sekolah dan institusi agar guru dan tenaga kesehatan dapat mempraktekkan penggunaan alat smokerlyser, ungkapnya.

Menurut Liliek, pemerintah melalui Undang-undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 Tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan telah mewajibkan pemerintah daerah untuk menetapkan KTR di wilayahnya masing-masing melalui Peraturan Daerah (Perda) atau peraturan perundang-undangan daerah lainnya.

KTR ini meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan, terangnya.

Sementara Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr Shodiq Tjahjono melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Liliek Ekowati mengatakan semua orang berhak dilindungi kesehatannya dari paparan asap rokok orang lain. Tidak ada batas aman bagi paparan asap rokok. Racun yang dikandung asap rokok yang masuk ke dalam tubuh secara kumulatif akan tersimpan dan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Salah satu upaya efektif untuk melindungi seluruh masyarakat dari asap rokok orang lain adalah melalui penerapan kawasan tanpa rokok (KTR). Penerapan KTR memungkinkan masyarakat untuk dapat menikmati udara bersih dan sehat serta terhindar dari berbagai risiko yang merugikan kesehatan dan kehidupan, katanya.

Menurut Liliek, Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan dan/atau mempromosikan produk tembakau. “Oleh karena itu semua tempat yang telah ditetapkan sebagai KTR harus bebas dari asap rokok, penjualan, produksi, promosi dan sponsor rokok, jelasnya.

Liliek menerangkan penerapan kawasan tanpa rokok di lingkungan sekolah sudah menjadi suatu ketetapan dari Kementerian Pendidikan sehingga perlu dilaksanakan maksimal. “Mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 64 tahun 2015 tentang kawasan tanpa rokok di lingkungan sekolah dan Peraturan Bupati Probolinggo Nomor 26 Tahun 2016 Tentang Kawasan Tanpa Rokok, maka perlu adanya penerapan KTR di sekolah di Kabupaten Probolinggo, tegasnya.

Lebih lanjut Liliek menjelaskan penerapan KTR secara konsisten diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama terkendalinya faktor risiko penyakit dan kematian yang disebabkan oleh rokok dan meningkatnya budaya masyarakat dalam berperilaku hidup bersih dan sehat.

“Selain itu, akan meningkatkan citra (pandangan) yang baik dari masyarakat umum terhadap daerah dan pemerintahnya dengan meningkatnya kedisiplinan, ketertiban dan kepatuhan pada peraturan, terangnya.

Dari aspek lingkungan tambah Liliek, penerapan KTR akan berdampak pada meningkatnya kualitas udara, terutama kualitas udara dalam ruang. Dalam bidang ekonomi, akan mampu meningkatkan tingkat ekonomi keluarga karena berkurangnya belanja rokok, terutama pada keluarga miskin.

Bagi pemerintah tentunya akan mengurangi pengeluaran belanja pemerintah daerah untuk pembiayaan kesehatan dalam penanggulangan penyakit akibat rokok, pungkasnya. (wan)