Kamis, Februari 21, 2019
Beranda > Kesehatan > Dinkes Gelar Workshop Keperawatan Jiwa Komunitas Bagi Dokter dan Perawat

Dinkes Gelar Workshop Keperawatan Jiwa Komunitas Bagi Dokter dan Perawat

Reporter : Syamsul Akbar
PROBOLINGGO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar workshop keperawatan jiwa komunitas bagi dokter dan perawat di Orin Hall dan Resto Probolinggo, Selasa hingga Kamis (13-15/11/2018).

Kegiatan ini diikuti 33 orang dokter puskesmas dan 6 orang perawat puskesmas di Kabupaten Probolinggo. Selama 3 (tiga) hari para dokter puskesmas dan perawat puskesmas ini mendapatkan materi dari narasumber terdiri dari Tim Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Masyarakat Indonesia dan dokter spesialis jiwa.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr Shodiq Tjahjono melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Liliek Ekowati mengungkapkan perawatan kesehatan jiwa masyarakat merupakan bentuk pelayanan kesehatan jiwa berbasis komunitas untuk melakukan follow up pasien yang mendapatkan penanganan, pemberian medikasi dan memonitor peningkatan pasien.

“Terapi komunitas merupakan bentuk terapi dimana memanipulasi lingkungan untuk keuntungan bagi pasien dilingkungan sosial. Mileau terapi bisa didefinisikan sebagai tipe tindakan pada pasien di lingkungan sosial dengan memanipulasi lingkungan yang menguntungkan pasien. Salah satu tipenya adalah terapi komunitas, dimana pasien tinggal dengan struktur kehidupan yang beragam,” ungkapnya.

Liliek menjelaskan program terapi komunitas didesain untuk meningkatkan kemandirian, fungsi dan produktifitas individu dengan keterbatasan pada semua tingkat usia dengan pelayanan langsung dan support atau latihan. “Konsep terapi komunitas mencakup tindakan preventif yang merupakan primer, sekunder dan tersier,” terangnya.

Menurut Liliek, banyak orang dengan gangguan jiwa dapat hidup produktif dikomunitas bila mereka menerima penanganan dan bantuan dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti perumahan, pekerjaan, pendidikan, pelayanan sosial, transportasi dan pelayanan kesehatan.

“Tim ACT (Assertive Community Treatment) merupakan tim multi disiplin dan dikuatkan dengan tim leader untuk memberikan pelayanan yang komprehensif terhadap krisis, penanganan dan rehabilitasi untuk seseorang yang mengalami gangguan jiwa dikomunitas dan rumah,” tegasnya.

Sementara Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Probolinggo Wiwik Yuliati mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk menurunkan hospitalisasi, meningkatkan kualitas hidup pasien, melatih kemampuan dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari, memberikan support kepada keluarga dan pemberi asuhan serta menurunkan gejala-gejala ketidakmampuan.

“Kegiatan ini diharapkan nantinya angka hospitalisasi menurun, kualitas hidup meningkat dan kemampuan dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari meningkat. Selain itu, pasien, keluarga dan pemberi asuhan mendapat dukungan serta gejala-gejala ketidakmampuan akibat gangguan jiwa dan kecacatan menurun,” katanya.

Menurut Wiwik, kegiatan yang dilakukan diantaranya rehabilitasi untuk ketrampilan activity daily living/aktifitas hidup sehari-hari seperti melatih berbelanja dan memasak, menggunakan transportasi, berpakaian dan membantu berhubungan dengan keluarga dan masyarakat. Selanjutnya, pelayanan terhadap keluarga meliputi management krisis, konseling dan psikoedukasi dengan keluarga dan keluarga besar.

“Kegiatan lainnya adalah health promotion seperti memberikan pendidikan pencegahan kesehatan, mengatur skrining medis, membuat jadwal dan mempertahankan kunjungan, memberikan pelayanan medis akut, memberikan konseling reproduksi dan pendidikan seksual,” jelasnya.

Hal lain yang dapat dilakukan terang Wiwik adalah support medikasi meliputi memberikan pendidikan tentang pengobatan, memonitor komplikasi medikasi dan efek samping, pengobatan lanjutan dan rujukan.

“Serta konseling meliputi menggunakan pendekatan yang berorientasi pada masalah, mengintegrasikan konseling secara berkesinambungan, mengembangkan tujuan bersama dengan semua anggota tim, meningkatkan ketrampilan komunikasi dan memberikan konseling sebagai bagian dari pendekatan rehabilitasi,” pungkasnya. (wan)