Jumat, Januari 18, 2019
Beranda > Kesehatan > Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara

Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN Dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakabpro) ke-272, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo bersinergi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Probolinggo mengadakan deteksi dini kanker serviks dan payudara, 21 hingga 30 April 2018 mendatang.

Kegiatan ini dilaksanakan di 33 Puskesmas se-Kabupaten Probolinggo secara serentak. Sasarannya adalah wanita usia 30-59 tahun dengan metode melaksanakan pemeriksaan kanker payudara dan kanker leher rahim secara Inspeksi Visual Asetat (IVA).

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Probolinggo Wiwik Yuliati mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang kanker serviks dan payudara, tanda dan gejala serta pencegahannya.

“Selain itu, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pola hidup sehat sejak dini untuk mencegah kanker serviks dan payudara. Sekaligus sebagai acuan untuk melaksanakan pemeriksaan deteksi dini terhadap kasus kanker serviks dan payudara,” katanya.

Menurut Wiwik, kegiatan ini merupakan salah satu upaya melakukan deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim. “Disamping memberikan therapi secara dini pada lesi pra kanker agar tidak berkembang menjadi kanker serta meningkatkan cakupan program pemeriksaan IVA Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.

Wiwik menerangkan salah satu upaya yang penting dilakukan untuk mengatasi permasalahan kanker di Indonesia adalah dengan menerapkan pola hidup sehat sejak usia muda dan menghindari faktor-faktor penyebab kanker.

“Karena sebanyak 43% dari seluruh kasus kanker dapat dicegah. Sedangkan 30% dari kasus dapat disembuhkan bila ditemukan dan diobati pada keadaan dini. Jumlah pasien kanker akan meningkat drastis bila kita tidak berbuat apapun untuk upaya pencegahannya,” terangnya.

Sementara Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Shodiq Tjahjono melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Liliek Ekowati mengungkapkan transisi epidemiologi penyakit dipengaruhi oleh keadaan demografi, sosial, ekonomi dan social budaya mengakibatkan penyakit kanker menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.

“Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel-sel kanker. Dalam perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar kebagian tubuh lainnya sehingga dapat menyebabkan kematian,” ungkapnya.

Liliek menerangkan saat ini ada sekitar 8,2 juta manusia meninggal akibat kanker setiap tahunnya. Angka penderita ini diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya dan diperkirakan mencapai 23,6 juta kasus baru per tahun 2030 (GLOBOCAN,2012). Empat jutanya meninggal premature (berusia 30 sampai 69 tahun).

“Kanker leher rahim adalah keganasan yang terjadi pada leher rahim yang merupakan bagian terendah dari rahim yang menonjol kepuncak liang senggama (vagina), ” jelasnya.

Menurut data Globocan 2012 didapatkan estimasi insiden kanker leher rahim di Indonesia sebesar 17 per 100.000 perempuan. Kanker ini terjadi karena infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada perempuan usia reproduksi. “Infeksi dapat menetap, berkembang menjadi dispasi atau sembuh sempurna,” pungkasnya. (wan)