Beranda > Pendidikan > Akhlak Harus Lebih Dominan Dari Keilmuannya

Akhlak Harus Lebih Dominan Dari Keilmuannya

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Berbicara pendidikan tidak akan pernah habisnya. Karena pada hakekatnya pendidikan itu mulai dari lahir sampai ke liang lahat. Kabupaten Probolinggo merupakan bagian dari perjuangan di bidang pendidikan. Akhlak harus lebih dominan daripada keilmuannya. Bagaimana pendidikan yang berkarakter bagi para guru tetap ditanamkan akhlaknya menjadi yang pertama dan ilmunya untuk yang kedua.

Statemen tersebut disampaikan oleh Penasehat PGRI Kabupaten Probolinggo yang juga anggota Komisi VIII DPR RI Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si ketika menghadiri Dialog Pendidikan yang digelar Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan PGRI Kabupaten Probolinggo dalam rangka resepsi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2018 di Gedung Islamic Center (GIC) Kota Kraksaan, Senin (3/12/2018).

“Rakyat Kabupaten Probolinggo saat ini sudah berbeda dari dahulu. Pada saat zaman dahulu, para tokoh pendidikan berebut untuk mendapatkan murid. Mereka berlomba-lomba masuk kepada sekolah favoritnya. Wali murid menilai banyaknya murid dulu baru kemudian mengantarkan anaknya ke lembaga pendidikan,” katanya.

Menurut Hasan Aminuddin, berkat perjuangan bersama saat ini telah mampu menyadarkan masyarakat yang diberi titipan anak bahwa warisan terbaik yang bisa diberikan kepada anak adalah ilmu, bukan sapi maupun sawah.

“Sejak dahulu saya bercita-cita bagaimana pendidikan di Kabupaten Probolinggo menjadi pilihan masyarakat sehingga tidak sekolah ke luar Kabupaten Probolinggo. Oleh karena itu saya mengajak kepada para guru-guru bagaimana menciptakan sekolah di Kabupaten Probolinggo betul-betul inovasinya berkualitas,” jelasnya.

Hasan Aminuddin menegaskan bahwa hari ini banyak manusia yang bangga dengan pakaian bermerk dengan harga ratusan juta. Mereka yakin jika pakaian bermerk dengan harga mahal tersebut mampu mengangkat harkatnya. Padahal yang akan mengangkat harkatnya adalah karakter atau akhlak mulia. Tidak perlu mahal, cukup kita mengendalikan hati dan pikiran sehingga menjadi uswatun hasanah di lingkungan sekolahnya.

“Marilah frekuensi kita samakan bagaimana perjalanan bangsa dan zaman ini untuk menciptakan lembaga pendidikan yang berkualitas dan jangan bangga dengan kuantitas. Serta bagaimana hasil dari produk guru ini akhlaknya harus lebih dominan dari pada keilmuannya,” pungkasnya. (wan)