Tuesday, October 19, 2021
Depan > Kemasyarakatan > Masyarakat Tengger Rayakan Yadnya Kasada di Tengah Pandemi COVID-19

Masyarakat Tengger Rayakan Yadnya Kasada di Tengah Pandemi COVID-19

Reporter : Mujiono
SUKAPURA – Ritual larung sesaji hasil bumi sebagai salah satu tradisi adat suku Tengger di setiap perayaan Yadnya Kasada. Perayaan ini tetap digelar di tengah-tengah pandemi COVID-19. Di tiap-tiap desa mewajibkan untuk membawa ongkek yang berisikan hasil-hasil bumi yang akan dilarungkan ke kawah Gunung Bromo.

Tiap-tiap desa yang siap membawa ongkek dan seluruh masyarakat Tengger yang membawa sebagian hasil buminya berbondong-bondong menuju Pura Luhur Poten Bromo untuk dilakukan doa bersama, Selasa (7/7/2020) dini hari mulai pukul 00.00 WIB pada perayaan Yadnya Kasada tahun 1942 Saka atau ditahun 2020 Masehi tanpa dihadiri wisatawan Bromo karena sedang dalam pandemi COVID-19.

Usai ritual doa bersama di Pura Luhur Poten Bromo, tepat pada pukul 03.00 dini hari dimulainya untuk mengantarkan ongkek dan tandur tuwuh secara beriringan menuju bibir kawah Gunung Bromo untuk dipersembahkan kepada Sang Hyang Widhi.

Beraneka macam hasil bumi yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Widhi tidak hanya dilakukan oleh umat Hindu Tengger. Masyarakat Tengger yang bukan beragama Hindu di wilayah Tengger Bromo juga membawa hasil buminya untuk dilarungkan ke kawah Gunung Bromo yang tujuannya sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas nikmat atau rezeki yang diterimanya dan dijauhkan dari musibah.

Perayaan Yadnya Kasada adalah sebuah upacara adat umat Hindu Suku Tengger yang diselenggarakan setiap tahun pada hari ke empat belas bulan Kasada tepat pada saat bulan purnama. Saat upacara Yadnya Kasada ini warga setempat disibukkan dengan kegiatan adat untuk mempersiapkan peranti dalam memeriahkan acara sakral upacara perayaan Yadnya Kasada.

Supoyo, Tokoh Adat Suku Tengger menyampaikan masyarakat Tengger sangat antusias mempersembahkan hasil buminya untuk dilarungkan ke kawah Gunung Bromo sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi dan juga dijauhkan dari malapetaka agar supaya masyarakat Tengger sejahtera serta dilimpahkan rejekinya.

“Yang ikut ritual Yadnya Kasada dan prosesi larung sesaji bukan hanya umat Hindu di wilayah Suku Tengger, masyarakat yang beragama lain di kawasan Bromo Tengger dan Sukapura ikut menyumbangkan hasil bumi, hasil ternak dan uang untuk dilarungkan ke kawah Gunung Bromo sebagai wujud persembahan pada Sang Hyang Widhi,” katanya.

Sementara Ketua Paruman Dukun se-Kawasan Tengger Sutomo menyampaikan terdapat 12 dukun yang ada di Kabupaten Probolinggo dan masing-masing daerah tidak tentu jumlah dukunnya.

Dukun di wilayah Kecamatan Sukapura dari Desa Ngadisari, Wonotoro, Jetak, Ngadas, Ngadirejo, Sapikerep, Kertowani, Pakel dan Kedasih. Sedangkan dukun di wilayah Kecamatan Sumber diantaranya dari Desa Wonokerso, Sumberanom, Ledokombo, Pandansari dan Ponjol. (y0n)