Sunday, September 26, 2021
Depan > Kemasyarakatan > Kecap Cap Kipas Sate Terbang ke Eropa

Kecap Cap Kipas Sate Terbang ke Eropa

Reporter : Hendra Trisianto
PROBOLINGGO – Di masa pandemi Covid-19 ini, produk Kecap Cap Kipas Sate CV Mustika Digdaya Desa Tambakrejo Kecamatan Tongas mampu melanglang buana ke pasar internasional. Kecap yang cukup ikonik bagi masyarakat Kabupaten Probolinggo ini ternyata juga digemari oleh negara di benua Eropa meliputi Belanda, Jerman, Belgia dan Australia.

Berdasarkan data rekapitulasi ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo menyebutkan CV Mustika Digdaya penghasil produk kecap Cap Kipas Sate, tercatat sejak tahun 2018 sampai saat ini sudah sering terbang ke Eropa. Bahkan sebelum adanya pandemi Covid-19, ratusan liter kecap ini diekspor hampir setiap bulan.

Untuk saat ini produk kebanggaan CV Mustika Digdaya juga turut memberi support event “Merdeka Eksport” Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang akan dilaksanakan secara serentak pada 17 titik pelabuhan pada bulan Agustus ini.

Akhmad Muhammad Daeng Yewa (60), pemilik CV Mustika Digdaya mengatakan, syarat utama agar produk kecapnya tetap eksis dan diminati di pasar lokal dan mancanegara adalah kualitas yang stabil dan networking yang memadai.

Pria berdarah Makasar-Timor Leste yang akrab disapa Ade ini mengatakan empat tahun terakhir ini pihaknya mensupport dua perusahaan perantara ekspor yang ada di Kota Surabaya dan Malang untuk ekspor di beberapa negara di Eropa.

“Karena industri kecap kami masih berbasis UMKM, jadi perlu bermitra dengan pihak ketiga sebagai perantara ekspor. Namun saat ini kami juga tengah menyiapkan sertifikasi SNI produk, ISO dan Hazard Anaysis Critical Control Point (HACCP),,” katanya.

Ade mengemukakan meskipun di tengah pandemi Covid-19 kapasitas produksinya tetap stabil. Hal ini dikarenakan karena untuk pasar lokal sendiri kecap tetap dibutuhkan oleh masyarakat. Begitu juga dengan ekspor yang masih tetap berjalan sampai saat ini.

“Alhamdulillah sampai saat ini kami tetap bertahan, tidak ada karyawan yang kami PHK. Semua tetap bekerja seperti biasanya dan gaji mereka pun tidak ada pengurangan. Hanya saja kapasitas ekspor kami mengalami penurunan sampai 30 persen,” tandasnya.

Sementara Plt Kepala Disperindag Kabupaten Probolinggo Moch. Natsir menjelaskan, saat ini pihaknya fokus untuk terus menumbuhkan budaya ekspor dengan melakukan pendampingan dan fasilitasi, terutama kepada pengusaha pengusaha UMKM menengah yang memiliki potensi ekspor.

“Untuk produk CV Mustika Digdaya kedepan mereka juga sedang bersiap untuk melebarkan sayap dengan melengkapi dokumen dokumen standar produksi. Kami akan terus support dan fasilitasi para pengusaha kita, terutama yang berpotensi ekspor,” tandasnya.

Angka pertumbuhan pengusaha baru di Kabupaten Probolinggo dikatakan Natsir cukup tinggi. Selanjutnya perlu gerakan perubahan paradigma lama menuju masyarakat networking. Konsep ini sudah diterapkan di daerah lain yang banyak memiliki pengusaha UMKM seperti Bali, Jogjakarta dan daerah industri lainnya.

“Masyarakat networking identik dengan klaster klaster yang saling mendukung satu sama lain. Ada klaster produksi, klaster penyedia bahan baku, para seller dan pendukung lainnya,” jelas Natsir.

“Budaya ekspor akan tumbuh pesat seiring dengan pertumbuhan networking. Untuk mendukung hal ini kami juga bermitra dengan beberapa perguruan tinggi dan tenaga ahli, termasuk perusahaan-perusahaan swasta,” pungkasnya. (dra)