Monday, March 4, 2024
Depan > Kemasyarakatan > Inovasi BUMI KRAKSAAN, Terobosan Budidaya Udang Vannamei Berskala Rumah Tangga

Inovasi BUMI KRAKSAAN, Terobosan Budidaya Udang Vannamei Berskala Rumah Tangga

Reporter : Hendra Trisianto
PROBOLINGGO – Berbicara tentang bisnis manis udang vanamei selalu identik dengan komplek pertambakan yang sangat luas berikut teknologi intensif yang begitu rumit. Sumber daya yang memadai serta air laut bersalinitas tinggi merupakan kebutuhan mendasar.

Maka tidak heran stigma yang berkembang di masyarakat, budidaya udang vannamei ini hanya ranah bagi para bos bermodal tebal. Sedangkan bagi pembudidaya skala kecil, bisnis ini sebelumnya hanyalah angan-angan belaka.

Berbekal inspirasi dari populernya budidaya ikan lele dalam tong serta masih luasnya pangsa pasar udang vannamei, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo menciptakan terobosan budidaya udang vannamei berskala rumah tangga. Dan tentu saja tidak memerlukan lahan luas dan teknologi yang rumit.

Inovasi bernama Budidaya Udang vannaMeI Kolam bundaR menggunAKan raS di media Air laut buatAN (BUMI KRAKSAAN) itu mulai diuji coba sejak awal tahun 2020 lalu. Tepatnya berada di kantor UPT Pengembangan Budidaya Air Tawar/Payau Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Probolinggo di Desa Pabean Kecamatan Dringu.

Media yang digunakan adalah beberapa kolam terpal bundar berdiameter 4 meter, tinggi 0,75 meter dan berisi 12 ton air laut buatan yang terdiri dari campuran air tawar, garam krosok curah dan air tua garam (bittern) yang sangat melimpah di Probolinggo.

Media tersebut terbukti mampu menampung dan menghidupi sebanyak lima ribu ekor bibit udang vannamei untuk satu siklus selama 65-70 hari. Hal ini dikarenakan media kolam bundar tersebut ditopang oleh infrastruktur Recirculating Aquaculture System (RAS) guna meresirkulasi air laut buatan agar kondisinya tetap stabil dan sehat untuk tumbuh kembang udang Vannamei.

Uji coba itu pun sukses dan mulai diminati masyarakat dataran rendah terutama sekitaran pesisir. Pelatihan masyarakat pun digelar oleh Dinas Perikanan sejak Oktober 2020 lalu dan hasilnya 11 kelompok pembudidaya udang Vannamei terbentuk dan aktif berproduksi sampai saat ini. Selain mereplikasi beberapa kelompok juga melakukan pengadaptasian sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan.

Pembinaan dan pendampingan terus dilakukan oleh Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Probolinggo, tujuannya agar 11 kelompok pembudidaya udang vannamei ini mampu menjadi inspirator tumbuhnya embrio-embrio pembudidaya baru.

Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi berharap selain menjadi daerah lumbung padi Jawa Timur, Kabupaten Probolinggo dengan garis pantai sepanjang 72 km dan melalui inovasi Bumi Kraksaan juga berpotensi mengangkat sektor perikanan budidaya.

Menurut Dedy, udang vannamei merupakan komoditas primadona yang memiliki harga cukup mahal dan memiliki pangsa pasar yang luas, mulai dari pasar lokal sampai eksport. Baru 6% dari kebutuhan pasar eksport yang bisa dipenuhi oleh Indonesia. Oleh karenanya investasi budidaya udang vanamei di tambak semakin meningkat.

Lebih lanjut Dedy menegaskan sebagai gambaran produksi udang vannamei di Kabupaten Probolinggo 90% berasal dari tambak intensif dan menyumbang lebih kurang 80% dari total produksi ikan Kabupaten Probolinggo.

“Tahun 2017, produksi udang mencapai 7.918,65 ton dengan total produksi ikan 10.274,83 ton, tahun 2018, produksi udang mencapai 8.999,20 ton dengan total produksi ikan 10.860,88 ton dan tahun 2019 produksi udang mencapai 9.606,20 ton dengan total produksi ikan 11.858,93 ton,” terangnya.

Dedy menambahkan meski tak sedikit bermunculan tambak intensif udang vannamei berskala besar, faktanya keberadaan mereka sampai saat ini lebih fokus untuk pasokan pasar ekspor. Sementara untuk pasokan pasar lokal sangatlah terbatas yakni tidak sampai 10 persen dari total kapasitas produksi mereka.

“Inovasi BUMI KRAKSAAN ini kedepannya diharapkan mampu menjawab semua permasalahan itu. Sehingga budidaya udang vannamei bergeser menjadi trend usaha kerakyatan dan bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja dengan media terjangkau dan modal usahanya tidak besar,” pungkasnya.

Sementara itu Abdurrohim (38), salah satu pembudidaya udang vannamei binaan Dinas Perikanan asal Desa Pajurangan Kecamatan Gending mengaku puas dengan keuntungan sebesar 100 persen dari setiap hasil panen udangnya sejak awal.

Berbekal pengalaman sebagai mantan pekerja tambak udang intensif, pada awal tahun 2021 ia memulai usahanya sendiri dengan sepetak tambak mini disamping rumahnya seluas 6 x 7 meter untuk enam ribu ekor bibit udang vanamei.

Modal awal yang disiapkan sebesar Rp1,3 juta untuk kebutuhan bibit udang, pompa listrik, perangkat aerator serta pakan, cairan fermentasi bakteri dan kebutuhan pasokan listrik untuk masa budidaya selama 70 hari.

“Sejak awal kami selalu didampingi Dinas Perikanan secara berkala. Alhamdulillah panen perdana langsung memuaskan, hasilnya 100 persen dari modal. Omzet penjualan mencapai 2,3 juta dan penjualannya pun mudah dan cepat,” terang bapak dengan dua anak ini.

“Mohon doanya saat ini saya tengah menunggu hasil panen kedua. Alhamdulillah kini saya mengelola empat petak tambak yang kesemuanya memanfaatkan halaman rumah saya,” tandasnya.(dra)