Wednesday, October 27, 2021
Depan > Kesehatan > Cluster Keluarga Sangat Berbahaya dan Sulit Terdeteksi

Cluster Keluarga Sangat Berbahaya dan Sulit Terdeteksi

Reporter : Wahed Efendi
KRAKSAAN – Juru Bicara Ketua Pelaksana Satgas Penanganan COVID-19 Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Vironica mengatakan saat ini cluster keluarga terjadi saat salah satu anggota keluarga terinfeksi virus COVID-19, lalu menularkan ke anggota keluarga lainnya sehingga satu rumah tertular COVID-19 saat berada di rumah sendiri. Cluster keluarga semakin banyak dikarenakan aktifitas warga yang tidak mematuhi protokol kesehatan di era kebiasaan baru ini.

“Contohnya kegiatan arisan, kegiatan musik massal, kegiatan olahraga bersama yang melibatkan banyak orang, membiarkan anak-anak bermain bersama di lingkungan komplek tanpa memakai masker dan jaga jarak, melakukan piknik atau jalan-jalan ke tempat yang ramai sehingga berpotensi membawa virus saat kembali ke rumah atau lingkungan keluarganya,” katanya.

Menurut Dewi, cluster keluarga sangat berbahaya dan sulit terdeteksi, terutama bila penderitanya tanpa gejala. Saat penularan COVID-19 masuk dalam sebuah keluarga maka segala kebijakan, protokol dan sistem monitoring yang ditetapkan oleh pemerintah tidak dapat menahan transmisi virus ke lingkungan keluarga.

“Adanya budaya sosial misalnya silaturahmi, arisan keluarga, dapat menyebabkan transmisi virus dari satu keluarga ke keluarga lainnya semakin cepat dan penularannya semakin masif. Hal tersebut diperburuk jika orang yang bergejala tersebut tidak mau melakukan tes swab karena masih kuatnya stigma di masyarakat dan takut dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya, sehingga orang tersebut berperan sebagai sumber penularan,” jelasnya.

Belum lagi jika dalam keluarga tersebut terdapat orang lanjut usia (lansia), maka akan menyebabkan lansia tersebut terinfeksi COVID-19. Hal ini menjadi salah satu sebab mengapa akhir-akhir ini banyak kasus terkonfirmasi positif di rumah sakit yang awalnya sebagai suspect atau probable.

“Penyebab lansia lebih rentan terinfeksi COVID-19 karena lansia sudah mengalami penurunan fungsi organ, penurunan psikologis sehingga mudah stress, adanya penyakit penyerta (misal kencing manis, darah tinggi dan penyakit jantung) serta penurunan nafsu makan yang menyebabkan penurunan gizi sehigga imunitasnya berkurang,” terangnya.

Lebih lanjut Dewi menerangkan untuk mencegah hal tersebut lansia harus dipenuhi gizinya, dihindari stress, dikontrol penyakit penyertanya dan tetap dapat melakukan aktifitas sosial dengan protokol kesehatan dan yang paling penting adalah adanya dukungan dari keluarga.

“Kita tidak pernah tahu apakah orang yang masuk ke rumah kita membawa virus atau tidak. Oleh karena itu sebisa mungkin keluar rumah hanya untuk kegiatan penting saja misalnya bekerja,” tegasnya.

Dewi mengajak semua untuk menyayangi keluarga, menyayangi orang tua, menyayangi diri sendiri dan jangan membawa transmisi virus ke rumah, keluarga maupun lingkungan sosialnya. “Buang keegoan kita, tahan kebosanan di rumah demi kebaikan, keselamatan keluarga dan keselamatan sosial. Salam sehat dari Satgas Penanganan COVID-19 Kabupaten Probolinggo. Bisa !!!,” pungkasnya. (hed)