Tuesday, September 28, 2021
Depan > Kemasyarakatan > Ada Burung Berkik-Kembang Besar di Pertambakan Desa Asembagus

Ada Burung Berkik-Kembang Besar di Pertambakan Desa Asembagus

Reporter : Hendra Trisianto
KRAKSAAN – Bulan ini pesisir pantai Probolinggo mulai dikunjungi kembali berbagai jenis burung pantai migran. Salah satunya yang sangat menarik dan menantang untuk diamati adalah burung Berkik-Kembang besar (Rostratula Benghalensis).

Tidak hanya menjadi perhatian khusus bagi kalangan pengamat lokal dan fotografer satwa liar Probolinggo, kehadiran jenis burung yang termasuk dalam 562 daftar burung yang dilindungi PERMEN LHK No. P20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 ini pun mengundang kehadiran pengamat dan fotografer satwa liar dari luar kota.

Pasalnya di Indonesia sendiri burung yang memiliki istilah Inggeris Greater Painted Snipe ini sebelumnya tidak umum dijumpai kecuali di Sumatera dan Kalimantan, itu pun diketahui hanya beberapa catatan saja dari para pengamat. Sedangkan untuk di pulau Jawa saat ini sudah sangat jarang dijumpai.

Perilaku uniknya yang paling umum adalah sangat pandai dalam menyamarkan diri diantara rerumputan dan ilalang. Ditambah sifatnya yang sensitif dan tahan lama saat bersembunyi ketika merasa terancam membuatnya sangat sulit untuk diamati mata telanjang dan diabadikan melalui kamera.

“Bagi kalangan wildlife fotografer, Berkik-Kembang besar memiliki reputasi sebagai burung ghoib. Karena pandai berkamuflase dan betah bersembunyi, sehingga sangat sulit untuk menemukan apalagi untuk memotretnya,” ungkap Budi Setiawan (48), Akademisi Unair Surabaya, saat mencoba peruntungannya memotret Berkik-Kembang besar di kawasan pertambakan non produktif Desa Asembagus Kecamatan Kraksaan, Minggu (22/9/2019) pagi.

Menurut pria yang akrab dipanggil Cak Boeseth ini ada dua kemungkinan mengapa burung omnivora yang mempunyai kebiasaan mendiami padang rumput, rawa-rawa dan lahan persawahan ini baru terpantau di Probolinggo.

“Bisa jadi mereka baru bisa teramati karena memang perilakunya yang membuatnya sulit diamati. Kemungkinan kedua karena keberlimpahan sumber makanan dan habitat yang masih bagus di sini, sehingga migrasi kali ini menarik naluri mereka untuk mengunjungi kawasan ini,” jelas Cak Boeseth.

Pada kesempatan yang sama Nur Akhmad Manan (37), salah satu anggota komunitas fotografer satwa liar Probolinggo (5am_wildlifephotography) menurunkan, selama lima tahun terakhir komunitasnya melakukan pengamatan, baru kali ini mendapati kelompok kecil burung Berkik-Kembang besar. Sebelumnya hanya Berkik-Ekor Lidi (Gallinago Stenura) yang langganan transit.

“Spot ini memang menjadi salah satu lokasi favorit burung berkik setiap tahunnya, namun catatan kami selama tiga tahun pengamatan disini hanya terpantau berkik-ekor lidi atau pintailed snipe,” ungkap salah satu Perangkat Desa Sukomulyo ini.

Lebih lanjut bapak dengan empat anak ini mengungkapkan, bisa menyaksikan keberadaan salah satu burung pantai langka dan mempunyai reputasi khusus seperti Berkik-kembang besar menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri baginya apalagi bisa mengabadikannya melalui frame foto.

“Gregetan dan kesal adalah kesan yang kami rasakan saat mengamati burung ghoib ini, bagaimana tidak ketika kita sedang fokus kepada satu berkik, selangkah kita maju, eeh ternyata tepat di depan kita ada yang sedang sembunyi,” tandasnya. (dra)