PROBOLINGGO – Tidak semua perubahan harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia tumbuh dari kegelisahan sederhana ketika melihat sesuatu yang belum berjalan sebagaimana mestinya.
Kegelisahan itulah yang kemudian membawa Rosita Dame Islina membangun Gerakan Sadar Remaja (GSR). Berawal dari kampung halaman di Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo, GSR tumbuh menjadi ruang bagi anak muda untuk belajar, berkegiatan, berbagi dan terlibat langsung dalam persoalan di lingkungan mereka.
Rosita mendirikan GSR pada tahun 2024 setelah melihat masih terbatasnya ruang bagi anak muda untuk menjadi pelaku kegiatan di desa. Kolaborasi antara generasi muda dan orang tua belum banyak terbangun, sementara aktivitas yang secara khusus melibatkan anak muda juga masih minim.
“Waktu saya kembali ke kampung halaman di Kecamatan Tiris, saya melihat anak muda masih jarang dilibatkan sebagai pelaku kegiatan. Dari situ saya berpikir bagaimana anak muda bisa punya ruang untuk bergerak dan membuat sesuatu di lingkungan mereka sendiri,” ungkapnya.
Langkah pertama GSR dimulai melalui kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan RI di desa. Anak-anak muda dilibatkan dalam kepanitiaan dan menjadi penggerak utama kegiatan.
Dari langkah kecil tersebut, GSR kemudian berkembang. Mereka mulai membangun kolaborasi dengan berbagai pihak dan masuk ke isu yang lebih luas, mulai dari kesehatan remaja, pendidikan, sosial, inklusi hingga pelestarian budaya.
Bersama Puskesmas misalnya, GSR pernah terlibat dalam kegiatan screening dan edukasi di sekolah mengenai stunting, pernikahan dini dan kenakalan remaja. GSR juga berupaya menjadi ruang bagi anak muda untuk bercerita mengenai pendidikan maupun berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Semangat untuk hadir di tengah masyarakat kemudian membawa GSR pada berbagai kegiatan sosial.

Salah satunya melalui Ruang Baik, program GSR yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Program ini diwujudkan melalui kunjungan ke panti asuhan, panti lansia hingga kegiatan bersama penyandang disabilitas.
Dalam salah satu kegiatan terbarunya, GSR mengajak anak muda menghabiskan waktu bersama para lansia di Panti Tresna Werdha Muhammadiyah Mayangan Kota Probolinggo.
Mengusung tema “Sehari Menjadi Keluarga, Berbagi Bahagia Bersama Lansia”, para peserta tidak datang dengan rangkaian kegiatan yang rumit. Mereka memilih duduk bersama, berbincang, mewarnai dan mendengarkan cerita para lansia.
Bahkan ketika melihat kondisi beberapa lansia yang sedang kurang sehat dan mudah lelah, kegiatan sengaja dipersingkat. Bagi GSR, kenyamanan para lansia lebih penting daripada menyelesaikan seluruh rangkaian acara.
Kegiatan serupa juga pernah dilakukan bersama anak-anak di SLB Dharma Asih Kraksaan. Di sana, anak muda diajak untuk berinteraksi dan belajar bahwa kepedulian terhadap sesama tidak mengenal perbedaan kondisi maupun latar belakang.
“Buat kami, kegiatan sosial bukan hanya tentang memberi. Anak-anak muda juga belajar dari orang-orang yang mereka temui. Dari lansia kita belajar pengalaman hidup, dari teman-teman disabilitas kita belajar tentang keberagaman dan bagaimana melihat orang lain dengan lebih terbuka,” tuturnya.
Menariknya, gerakan GSR tidak berhenti pada kegiatan sosial. Anak muda juga diajak mengenal potensi budaya yang ada di sekitar mereka.
Salah satunya melalui kegiatan edukasi kerajinan gerabah. Anak muda diperkenalkan pada proses pembuatan kerajinan tradisional sekaligus diajak memahami nilai budaya di baliknya.

Bagi GSR, mengenalkan gerabah kepada generasi muda bukan sekadar mengajarkan keterampilan membuat kerajinan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi cara untuk mempertemukan generasi muda dengan tradisi yang mungkin semakin jarang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat itu juga tercermin dalam program Fun Kids, yang menghadirkan kegiatan belajar dan bermain bersama anak-anak, termasuk belajar di alam.
Sementara program Arena diarahkan pada kegiatan kepemudaan dan gotong royong di lingkungan desa.
Tiga ruang tersebut membuat GSR tidak terpaku pada satu jenis kegiatan. Ada ruang untuk bergerak bersama masyarakat, ruang untuk belajar bersama anak-anak dan ruang untuk hadir bagi mereka yang membutuhkan perhatian.
Bunda GenRe Kabupaten Probolinggo Ning Marisa Juwitasari Moh. Haris, SE., MM., melihat keterlibatan komunitas seperti GSR sebagai bagian dari upaya memberikan ruang positif bagi generasi muda.
Menurutnya, anak muda perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar melalui pengalaman langsung dan terlibat dalam kehidupan masyarakat.
“Anak muda perlu diberi ruang untuk bergerak, belajar dan berbuat sesuatu yang bermanfaat. Ketika mereka terlibat langsung di masyarakat, mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman, tetapi juga belajar tentang kepedulian, kebersamaan dan tanggung jawab,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak anak muda yang berani mengambil peran di lingkungan masing-masing, baik melalui komunitas, kegiatan sosial maupun berbagai aktivitas positif lainnya.

Bagi Rosita, perjalanan GSR sendiri masih panjang. Ia tidak ingin komunitas yang dibangunnya hanya menjadi penyelenggara kegiatan, tetapi menjadi ruang tumbuh bagi anak muda.
“Harapan saya GSR bisa semakin banyak memberikan manfaat. Menjadi ruang bagi anak muda untuk belajar, bertumbuh dan berdampak. Tidak hanya datang ketika ada kegiatan, tetapi benar-benar mau melihat apa yang terjadi di sekitar dan kemudian melakukan sesuatu,” katanya.
Di tengah derasnya dunia digital yang membuat anak muda begitu dekat dengan layar, GSR mencoba menawarkan ruang yang berbeda: keluar, bertemu, mendengar, belajar dan bergerak bersama.
Sebab perubahan tidak selalu membutuhkan langkah besar. Kadang ia cukup dimulai dari satu anak muda yang bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”. *
Penulis : Haryo Rusdianto Susilo
Editor : Tim Bromo Info
