Thursday, October 8, 2026
Depan > Kemasyarakatan > KTNA Krejengan Kenalkan Pembenah Tanah Murah Berbahan Eceng Gondok

KTNA Krejengan Kenalkan Pembenah Tanah Murah Berbahan Eceng Gondok

KREJENGAN – Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo mulai mendorong pemanfaatan bahan lokal sebagai solusi untuk memperbaiki kondisi tanah pertanian yang semakin keras, asam dan kehilangan kesuburan.

Upaya tersebut dilakukan melalui praktik pembuatan pembenah tanah berbahan dasar eceng gondok bersama Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Krejengan, Rabu (12/8/2026). Kegiatan berlangsung di rumah Makruf Desa Gebangan dengan melibatkan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Perkebunan dan POPT Pangan Hortikultura.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan petani dalam mengelola kesuburan tanah secara lebih sederhana, murah dan berkelanjutan. Terlebih, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dalam jangka panjang dinilai dapat memengaruhi kondisi tanah.

POPT Perkebunan dari Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya, Ika Ratmawati menjelaskan pembenah tanah yang dibuat dalam pelatihan tersebut memanfaatkan eceng gondok yang diolah menjadi asam humat.

“Pembenah tanah ini berfungsi memperbaiki struktur fisik, kimia dan biologi tanah secara alami dengan memanfaatkan tanaman liar di perairan, yaitu eceng gondok, yang diproses sehingga menjadi asam humat,” katanya.

Petani praktik pembuatan pembenah tanah berbahan dasar eceng gondok. (Foto : POPT Perkebunan)

Menurutnya, tanah tidak hanya membutuhkan unsur hara, tetapi juga karbon untuk menjaga kualitasnya. Asam humat yang dihasilkan dari proses pengolahan bahan organik tersebut dapat membantu memperbaiki kondisi tanah sehingga lebih gembur dan mendukung pertumbuhan tanaman.

“Tanah juga butuh unsur karbon. Asam humat yang kita buat ini merupakan bentuk humus yang menyediakan unsur penting tersebut. Dengan begitu, tanah menjadi lebih gembur dan tanaman pun tumbuh optimal,” jelasnya.

Sementara POPT Pangan Hortikultura wilayah Kecamatan Krejengan Kamaluddin Harahap menerangkan asam humat dapat membantu memperbaiki kondisi tanah, termasuk dalam menjaga keseimbangan pH serta meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air dan unsur hara.

“Dengan struktur tanah yang kembali gembur, akar tanaman dapat menyerap nutrisi dengan lebih efisien, sehingga hasil pertanian pun meningkat,” terangnya.

Dalam praktik tersebut, petani menggunakan bahan yang relatif mudah diperoleh. Komposisinya terdiri dari 5 kilogram eceng gondok, 1 kilogram limbah kulit nanas, 250 mililiter EM4, 250 mililiter molase dan 10 liter air.

Proses diskusi praktik pembuatan pembenah tanah berbahan dasar eceng gondok. (Foto : POPT Perkebunan)

Seluruh bahan kemudian dicampurkan dalam wadah dan menjalani proses fermentasi selama sekitar 30–60 hari. Setelah proses tersebut selesai, cairan hasil fermentasi dapat diencerkan sebelum diaplikasikan ke lahan.

Kamaluddin menjelaskan, larutan yang telah jadi dapat digunakan sebagai pembenah tanah dengan pengenceran sekitar 10 mililiter cairan untuk setiap satu liter air. Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara dikocorkan ke lahan.

Koordinator BPP Kecamatan Krejengan Muhammad Mustajib mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, praktik langsung seperti ini penting karena memberikan alternatif yang dapat dipelajari dan diterapkan petani sesuai kondisi di lapangan.

“Kita harapkan pendekatan seperti ini terus dilakukan, agar petani bisa menemukan solusi atas masalah pertanian mereka sendiri melalui praktik yang mudah dan aplikatif,” ujarnya.

Ketua KTNA Kecamatan Krejengan Imam Wahyudi menambahkan inovasi sederhana tersebut menunjukkan bahwa upaya memperbaiki produktivitas pertanian tidak selalu membutuhkan biaya besar.

Foto bersama hasil praktek pembuatan pembenah tanah berbahan dasar eceng gondok. (Foto : POPT Perkebunan)

“Program ini menjadi contoh nyata bahwa solusi pertanian tidak selalu bergantung pada teknologi mahal, tapi bisa juga dimulai dari inovasi lokal yang sederhana dan ramah lingkungan,” terangnya.

Melalui pelatihan tersebut, KTNA Krejengan bersama BPP Kecamatan Krejengan berharap petani semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan tanah. Pemanfaatan bahan organik lokal juga diharapkan dapat menjadi bagian dari praktik pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan. ***

Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info