Minggu, Februari 18, 2018
Beranda > Kemasyarakatan > Tradisi, Budaya dan Seni Adalah Perekat Persatuan Indonesia

Tradisi, Budaya dan Seni Adalah Perekat Persatuan Indonesia

Reporter : Hendra Trisianto
KRAKSAAN – Dalam rangka mempererat tali silaturahmi antar suku, agama, ras dan etnis yang ada di Kabupaten Probolinggo, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Probolinggo menggelar pagelaran seni dan budaya etnis di Gedung Islamic Center (GIC) Kota Kraksaan, Jum’at (10/2/2018) malam.

Kegiatan yang dikemas dengan aksi pemuda melalui drama teaterikal refleksi dinamika perkembangan Kabupaten Probolinggo ini dihadiri oleh Kepala Badan Perwakilan (Bakorwil) Provinsi Jatim Wilayah V Jember Tjahjo Widodo, anggota Komisi VIII DPR RI Drs H Hasan Aminuddin M.Si, Kepala Bakesbangpol agus Mukson dan perwakilan pengurus FPK se-wilayah tapal kuda Jawa Timur.

Kegiatan ini mengambil tema “Kita Berjuang, Kita Berkorban, Kita Bersatu Untuk Indonesia, Kita Indonesia”. Salah satu kesenian yang turut ditampilkan selain tarian selamat datang dari Sumatera adalah Tari Kembang Goyang, dari Banyuwangi dan performance orkes keroncong “Kurmunadi”.

Tjahjo Widodo sangat mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan silaturahmi antar suku, ras dan agama dengan tema budaya seperti ini. “Dengan silaturahmi rutin seperti ini akan menjadikan suasana masyarakat Kabupaten Probolinggo yang ayem, tentram dan damai,” ungkapnya.

Ia menegaskan keberadaan FPK harus ikut ambil bagian dalam membangun bangsa Indonesia dan bela negara. Dengan menciptakan semangat rasa cinta tanah air, maka sebagai warga negara harus mencintai hasil bumi dan produk dalam negeri kita.

“Buah dan sayur memang kadang terlihat lebih mewah dan bagus, namun apa kita tahu kalau diantara itu semua ada yang berbahaya bagi kita karena ulah beberapa oknum yang ingin merusak bangsa kita,” ungkap Tjahjo Widodo.

Dalam kesempatan itu Hasan Aminuddin juga memberikan wawasan kebangsaan dengan mengupas perihal toleransi yang merupakan salah satu ciri budaya bangsa Indonesia dengan segala keanekaragaman adat dan budayanya.

“Dalam Kebhinnekaan itu yang harus diperhatikan adalah toleransi, menafsirkan dan mendefinisikannya jangan dicampur aduk antara sosiologis dan ideologisnya agar tidak ada ketersinggungan antar agama,” jelas Hasan Aminuddin.

Perkembangan teknologi informasi dengan segenap media sosial dan informasi di dalamnyanya disebut Hasan Aminuddin juga penyebab beragamnya persepsi masyarakat saat ini tentang toleransi dan melenceng dari pengertian toleransi sebenarnya.

“Seperti kata Bung Karno yang juga telah mewanti-wanti kita semua, kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini,” kata Hasan Aminuddin mengutip salah satu ucapan Soekarno.

Sementara Ketua FKP Kabupaten Probolinggo KH. Idrus Ali dalam laporannya mengemukakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pelajaran nyata kepada generasi muda. “Dengan mempertahankan seni dan budaya warisan leluhur, maka persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia tetap utuh sampai sekarang meski Indonesia adalah negara dengan sejuta keanekaragaman,” kata Kiai Idrus.

Lebih lanjut Kiai Idrus menghimbau kepada para generasi muda agar lebih mencintai budaya asli indonesia, seiring dengan masuknya budaya-budaya asing yang tidak sedikit digandrungi para generasi muda.

“Suguhan seni dan budaya malam ini adalah kreatifitas dan kreasi para generasi muda kita. Semoga ke depan semakin banyak lagi para muda yang tampil dan mencintai budaya Indonesia,” harapnya. (dra)