Wednesday, October 18, 2017
Beranda > Kesehatan > Tingkatkan Kemitraan Bidan dan Dukun

Tingkatkan Kemitraan Bidan dan Dukun

Reporter : Syamsul Akbar
Selasa 16 mei 2017

KRAKSAAN – Dalam rangka meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo memfasilitasi pertemuan bidan dan dukun, Senin (15/5/2017).

Pertemuan yang digelar di ruang pertemuan Melati Dinkes Kabupaten Probolinggo ini diikuti 66 orang yang berasal dari 11 Puskesmas di Kabupaten Probolinggo. Selama pertemuan, mereka mendapatkan materi dari narasumber 2 orang dari Dinkes dan 2 orang dari puskesmas.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Shodiq Tjahjono melalui Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Sutilah mengungkapkan kegiatan ini bertujuan mengalihkan peran dukun dari penolong persalinan menjadi mitra bidan dalam merawat ibu masa nifas dan bayinya.

“Selain itu, menurunkan cakupan pertolongan persalinan dukun dengan cara dukun merujuk setiap kasus persalinan kepada bidan atau tenaga kesehatan yang berkompeten serta meningkatkan peran dukun sebagai kader kesehatan,” katanya.

Menurut Sutilah, kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Probolinggo masih belum maksimal. Hal ini ditandai dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) tahun 2016 sebanyak 110,62/100.000 dan angka kematian bayi (AKB) sebesar 12,44/1000 KH.

“Adapun penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan, Eklamsia, Emboli air ketuban dan penyebab tidak langsung adalah jantung, gagal ginjal dan asma. Sedangkan penyebab kematian bayi Asfiksia, kelainan konginetal, sepsis, TN, Pneumonia, diare, ISPA, infeksi, meningitis, aspirasi, TBC, gibur dan ileus,” jelasnya.

Sutilah menegaskan bahwa sebagai salah satu faktor yang sangat mempengaruhi terjadinya kematian ibu dan bayi tersebut adalah faktor pelayanan yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketrampilan tenaga sebagai penolong pertama pada persalinan.

“Di Kabupaten Probolinggo belum seluruhnya pertolongan persalinan ditangani oleh tenaga kesehatan yang memiliki ketrampilan khusus. Yaitu dilakukan oleh dukun bayi dengan menggunakan cara tradisional yang bisa merugikan dan membahayakan bagi keselamatan ibu dan bayi,” terangnya.

Lebih lanjut Sutilah menegaskan jumlah dukun bayi sebanyak 555 dan yang bermitra 536. Sedangkan jumlah bidan 552 dan persalinan dukun sebesar 1,97% (225). Namun keberadaan dukun bayi sampai saat ini masih dibutuhkan oleh masyarakat dan dihormati. Berbeda dengan keberadaan bidan yang rata-rata masih muda dan belum seluruhnya mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

“Kadang-kadang dukun bayi juga memberikan pelayanan yang lebih dibandingkan dengan petugas kesehatan. Contohnya, memandikan bayi, memijat ibu sampai masa nifas, mencuci pakaian, membuatkan jamu, memandu upacara ritual terkait kelahiran bayi,” tegasnya.

Oleh karenanya jelas Sutilah, harus mencari solusi suatu kegiatan yang dapat kerjasama yang saling menguntungkan antara bidan dan dukun bayi dengan harapan pertolongan persalinan akan beralih dari dukun ke bayi.

“Dengan demikian kematian ibu dan bayi diharapkan dapat diturunkan dengan mengurangi resiko yang mungkin terjadi bila pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga yang berkompeten. Dengan menggunakan suatu pola kemitraan antara bidan dan dukun,” pungkasnya. (wan/why)