Jumat, November 24, 2017
Beranda > Pendidikan > PGRI Gelar Seminar dan Workshop Literasi Hypnoteaching dan Hypnoterapy

PGRI Gelar Seminar dan Workshop Literasi Hypnoteaching dan Hypnoterapy

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-72 dan Hari Guru Nasional (HGN) ke-23 Tahun 2017, Pengurus Kabupaten PGRI Probolinggo bekerja sama dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo dan Unitra mengadakan seminar dan workshop literasi hypnoteaching dan hypnoterapy for Brilliant Student di Gedung Islamic Center (GIC) Kota Kraksaan, Sabtu (4/11/2017).

Kegiatan yang mengambil tema “Revolusi Pembelajaran Untuk Mengoptimalkan Potensi Siswa” ini diikuti oleh 1.400 orang anggota PGRI di Kabupaten Probolinggo. Serta beberapa pengurus PGRI dari daerah Besuki Raya.

Hadir dalam kegiatan ini Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE, Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Dewi Korina, Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi, Ketua Pengurus Provinsi PGRI Jawa Timur Ichwan Sumadi dan Ketua Pengurus Kabupaten PGRI Probolinggo Purnomo beserta segenap pengurus. Tidak ketinggalan narasumber HM Taufiqi.

Dalam sambutannya Ketua Pengurus Kabupaten PGRI Probolinggo Purnomo mengatakan seminar dan workshop literasi hypnoteaching dan hypnoterapy ini merupakan rangkaian kegiatan PGRI ke-72 dan HGN ke-23 tahun 2017.

“Selama ini kami memang konsentrasi kepada peningkatan mutu tidak hanya uforia, tetapi profesionalisme guru. Ini bukti bahwa Undang-undang (UU) Guru dan Dosen, penguasaan 4 (empat) kompetensi harus ditingkatkan dan dipertahankan,” ungkapnya.

Dengan workshop dan seminar ini Purnomo mengharapkan guru semakin kaya dalam perbendaharaan metode dalam menyampaikan pembelajaran di kelas sehingga tidak monoton yang pada akhirnya membuat anak jenuh dan bosan. Dengan hypnoteaching guru bisa menggali potensi siswa,menguak karakteristik peserta didik hingga bisa menyampaikan pesan-pesan positif melalui alam bawah sadarnya.

“Harapan ke depan guru dapat menjawab tantangan yang semakin kompleks terkait moral, akhlak anak bangsa yang semakin memprihatinkan, menjadi guru yang kompetitif dan kompetensinyapun semakin meningkat,” harapnya.

Sementara Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE menyampaikan kepada PGRI bahwasanya Kabupaten Probolinggo memberanikan diri menetapkan Surat Keputusan (SK) Bupati bagi 2.361 orang Guru Tidak Tetap (GTT) yang memang setelah sekian tahun mengharapkan sebuah kepastian masa depan.

“Atas keberanian penetapan SK Bupati terhadap GTT tersebut, akhirnya Dinas Pendidikan dan PGRI banyak menerima tamu dari luar daerah yang ingin belajar dan mereplikasikan keputusan yang sama terkait dengan status GTT yang selama ini terombang ambing dengan SK Kepala Sekolah,” katanya.

Menurut Bupati Tantri, pemberian SK Bupati terhadap ribuan GTT ini merupakan sebuah penghargaan dan wujud apresiasi kepada guru. Pemberian SK Bupati tersebut bukanlah tiket kosong, tetapi harus ada feadback yang jelas untuk Kabupaten Probolinggo dalam hal pembangunan Kabupaten Probolinggo.

“Dari awal saya menyampaikan kepada GTT begitu saya mengeluarkan SK Bupati sama perlakuannya dengan semua PNS, wajib dan mau ditetapkan di semua kecamatan. Karena salah satu alasan mengeluarkan SK Bupati tersebut bagaimana melakukan pemerataan guru di Kabupaten Probolinggo, ” jelasnya.

Bupati Tantri menegaskan bahwa guru harus mensyukuri atas diterimanya SK Bupati tersebut. Pasalnya masih banyak orang yang butuh SK Bupati. Selain adanya kenaikan gaji, SK Bupati tersebut juga dapat digunakan untuk sertifikasi guru.

“Salam hormat kepada GTT yang memang garus saya geser ke lembaga yang baru. Semua ini dilakukan untuk rasa keadilan dan kemaslahatan di Kabupaten Probolinggo. Tetapi jangan khawatir karena tidak akan seumur hidup dan tidak mungkin satu personil menuntut kepada Bupati untuk tetap berada di satu tempat hingga pensiun,” tegasnya.

Lebih lanjut Bupati Tantri menegaskan bahwa segala keputusan dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensi para guru di Kabupaten Probolinggo. Jangan lupa tuntutan masyarakat yang ingin bagaimana kehadiran guru bisa menjadi sebagai cahaya dalam kegelapan baik moral maupun pengetahuan.

“Harapan saya di usia ke-72 PGRI ini marilah bersama-sama menyatakan komitmen untuk membangun Kabupaten Probolinggo yang lebih baik. Potensi para guru luar biasa. Bahkan jumlah PNS di Kabupaten Probolinggo sebagian besar didominasi oleh guru. Marilah berkomitmen membentuk akhlak yang mulia minimal bagi murid dan contoh yang baik bagi wali murid,” pungkasnya.

Sedangkan Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi mengungkapkan kompetensi dan profesionalisme guru harus terus didorong untuk mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi. Guru harus bisa berperan dalam pembangunan moral bagi masyarakat.

“Pembangunan di Kabupaten Probolinggo harus dibangun dengan kekuatan moral melalui akhlakul karimah. Hal ini satu sisi dan sejalan dengan program PGRI. Kita harus menjadikan Pancasila sebagai landasan perilaku dalam melaksanakan tugas. PGRI adalah mitra strategi pemerintah. Kalau guru ingin maju, jangan disibukkan dengan hal-hal yang menyulitkan guru,” katanya.

Dalam kesempatan ini Bupati Tantri dan Kepala Dispendik Dewi Korina mendapatkan Kartu Tanda Anggota Kehormatan PGRI yang diberikan oleh Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi didampingi Ketua Pengurus Provinsi PGRI Jatim Ichwan Sumadi dan Ketua Pengurus Kabupaten PGRI Probolinggo Purnomo. (wan)