Kamis, Desember 14, 2017
Beranda > Kesehatan > Dinkes Bahas Kasus Audit Maternal dan Perinatal

Dinkes Bahas Kasus Audit Maternal dan Perinatal

Reporter : Syamsul Akbar
DRINGU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Rabu (29/11/2017) melakukan pembahasan kasus pelaksanaan Audit Maternal dan Perinatal di Rumah Sakit Wonolangan Kecamatan Dringu.

Kegiatan ini diikuti oleh 20 orang peserta yang berasal dari 4 (empat) puskesmas dan Rumah Sakit Wonolangan. Dalam kegiatan ini materi yang dibahas meliputi kasus inversi uteri dan ibu dengan Pre-Eklamsia.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Shodiq Tjahjono melalui Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Sutilah mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan dan menjaga mutu pelayanan KIA di tingkat Puskesmas melalui upaya tata kelola yang standart dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.

“Dengan kegiatan ini setidaknya peserta mampu menerapkan pembahasan analitik mengenai kasus kebidanan, mampu mengidentifikasi penyebab kematian dan mengkaji factor-faktor penyebab kematian ibu dan bayi, mampu mengembangkan mekanisme pembelajaran, pelaporan dan perencanaan terpadu RS serta mampu menentukan rekomendasi, intervensi, strategi pembelajaran dan pembinaan terhadap kasus yang ada,” ungkapnya.

Sutilah menerangkan pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan kesehatan. Diantaranya untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

“Sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Salah satu upayanya adalah peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak,” katanya.

Menurut Sutilah, di Kabupaten Probolinggo jumlah kematian ibu masih cukup tinggi. Pada tahun 2015 sebanyak 26 dan tahun 2016 sebanyak 20 kasus. Tahun 2017 sebanyak 14 kasus. Kematian ibu ini banyak disebabkan oleh Preeklamsia dan perdarahan.

“Sedangkan kematian bayi juga masih banyak. Tahun 2015 sebanyak 242 kasus, tahun 2016 sebanyak 223 kasus dan tahun 2017 sampai bulan Nopember minggu ke-2 sebanyak 159 kasus. Paling banyak penyebabnya tetap di dominasi oleh BBLR. Tempat kematian bisa terjadi di rumah sakit, puskesmas, polindes ataupun di rumah ibu, ” jelasnya.

Sutilah menambahkan upaya untuk menurunkan kematian ibu dan bayi diantaranya dengan meningkatkan ketrampilan bidan dalam memberikan pelayanan pada ibu hamil sampai berakhirnya masa nifas.

“Salah satu kegiatannya yaitu pembahasan kasus dalam Audit Maternal dan Perinatal. Harapannya diketahuinya akar penyebab masalah baik pada ibu maupun bayi sehingga ada pemecahan masalah yang bisa dilakukan oleh Dinas Kesehatan bersama dengan puskesmas maupun rumah sakit sebagai tempat rujukan,” pungkasnya. (wan)