Rabu, Januari 17, 2018
Beranda > Kesehatan > Bumil Penderita HIV/AIDS Harus Ditangani Sedini Mungkin

Bumil Penderita HIV/AIDS Harus Ditangani Sedini Mungkin

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Probolinggo masih tergolong tinggi. Meskipun jumlahnya mampu ditekan turun dari tahun ke tahun. Tahun 2015, jumlahnya mencapai 26 kasus, tahun 2016 sebanyak 20 kasus dan tahun 2017 sebanyak 14 kasus. Selain karena bawaan kehamilan, kematian ibu hamil (bumil) ini banyak disebabkan oleh penyakit. Salah satunya karena HIV/AIDS.

Selain AKI, jumlah Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Probolinggo juga turun. Tahun 2015 sebanyak 242 kasus, tahun 2016 sebanyak 223 kasus dan tahun 2017 sampai pertengahan Desember sebanyak 163.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr. Moch. Asjroel Sjakrie dalam rapat koordinasi (rakor) Komisi dan Kelompok Kerja Penanggulangan HIV/AIDS di ruang Bougenville Dinkes Kabupaten Probolinggo, Rabu (27/12/2017).

“Satu saja ibu melahirkan meninggal tentunya sangat miris sekali. Apalagi kematiannya dikarenakan oleh penyakit seperti HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS yang sedang hamil sangat rentan sakit,” katanya.

Menurut Asjroel, penderita HIV/AIDS yang hamil ini sangat mudah sekali menurunkan virusnya kepada bayinya. Sehingga menyebabkan kekebalan tubuh bayi menurun drastis.

“Demi menyelamatkan ibu dan bayinya, maka melahirkan harus melalui caesar. Setelah melahirkan, bayi tidak boleh dikasih ASI. Tetapi diganti dengan susu formula agar virus yang ada di ibunya tidak menular, ” jelasnya.

Oleh karena itu terang Asjroel, penanganan ibu hamil penderita HIV/AIDS harus dilakukan sedini mungkin. Jangan disembunyikan untuk mendapatkan penanganan yang maksimal.

“Bidan desa harus bisa melakukan pendampingan kepada ibu hamil penderita HIV/AIDS. Mulai minggu ke-14 kehamilan, minimal sudah mendapatkan ARV. Setelah melahirkan, harus ada pengawasan kepada bayinya. Karena kematian ibu dan bayi tahun ini banyak didominasi oleh penyakit, ” tegasnya.

Sementara Sekretaris KPA Kabupaten Probolinggo Ismail Pandji mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja KPA selama 5 (lima) tahun pemerintahan Bupati Probolinggo. Sekaligus menyusun kegiatan dan menegaskan tupoksi yang akan dilakukan pada tahun 2018.

“Harapan ke depan KPA dan segenap OPD terkait bisa lebih fokus untuk melakukan kegiatan dalam penanggulangan HIV/AIDS. Karena pada dasarnya, tugas ini bukan hanya menjadi tanggung jawab KPA saja tetapi semua komponen masyarakat. Butuh komitmen bersama agar penanggulangan HIV/AIDS ini bisa berjalan maksimal, ” katanya.

Sesuai data yang diterima oleh KPA Kabupaten Probolinggo, situasi penemuan penderita HIV/AIDS di Kabupaten Probolinggo mulai tahun 2000 hingga pertengahan 2017, jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 1.358 kasus. Dari jumlah tersebut, 919 orang masih hidup dan 439 orang sudah meninggal dunia.

“Penanggulangan HIV/AIDS ini harus dilakukan dari hulu sebagai upaya promotif. Dengan anggaran yang terbatas, kami terus berupaya memaksimalkan program untuk menanggulangi HIV/AIDS. Paling tidak bisa meminimalisir jumlah penderitanya. Mudah-mudahan dengan upaya dan komitmen bersama dari semua pihak, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Probolinggo semakin menurun,” pungkasnya. (wan)